Back to School, Keep It Cool!

Welcome back to school!
Liburan panjang telah usai, saatnya anak-anak kembali ke sekolah. Untuk menyambut kehadiran anak-anak di tahun ajaran baru ini, Sekolah Alam Pacitan pun berbenah. Dengan melestarikan kearifan lokal, gerbang sekolah dihiasi oleh hiasan daun kelapa (Janur) dan pohon pisang (Wit Gedhang). Menurut tradisi Jawa, hiasan janur dan wit gedang memiliki makna yang mendalam. Janur kuning, berasal dari Tembung Garba Sejane Nur lan Kalbu sing Wening. Harapannya, anak-anak datang belajar di sekolah mendapat Nur Ilahi, petunjuk dan ridho Tuhan Yang Maha Esa, juga tumbuh menjadi anak yang memiliki hati yang bersih. Sementara itu, Wit gedhang menyiratkan Digeget lan digadhang-gadhang, yang maknanya anak-anak selama di sekolah dididik dengan baik, dijaga sepenuh hati, semoga kelak menjadi generasi penerus yang mulia lahir batinnya.
Kearifan lokal yang kita miliki ternyata memiliki makna yang sangat dalam, bukan? Karena itulah Sekolah Alam Pacitan berkomitmen untuk terus melestarikan dan mengenalkan kearifan lokal kepada anak-anak agar tidak hilang digerus zaman. Selain dalam bentuk ornament, kesenian, juga pakaian adat yang dijadikan ‘seragam’ sekolah.
Minggu pertama masuk sekolah merupakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Tujuannya, adalah untuk mengenalkan pada siswa mengenai lingkungan sekolah, fasilitas sekolah, membangun bonding dengan teacher maupun teman-teman baru, menjelaskan tentang tata tertib dan aturan sekolah, program sekolah, cara belajar dan mengajar, serta permainan seru untuk melatih kekompakan serta menumbuhkan rasa nyaman siswa pada lingkungan baru.
Setiap tahun ajaran baru, akan ada adik kelas baru, siswa yang naik kelas 4 pindah ke gedung sekolah baru, ruang kelas baru, teacher baru. Bahkan teacher pun juga perlu beradaptasi dengan kelas yang berbeda, siswa yang berbeda, bahkan level yang berbeda. Dari yang biasanya mengajar kelas besar (4,5,6) tahun ini mengajar kelas kecil (1,2,3), atau sebaliknya. Ternyata hal itu pun memiliki tantangan tersendiri bagi guru.
“Tantangannya, ya, kita perlu mengenali karakter dan cara belajar siswa lagi, membangun bonding dengan siswa baru yang selama ini belum pernah kita ampu. Karena jika siswa dan guru sudah saling mengenal, nyaman, tentunya dalam pembelajaran ke depan akan lebih mudah, lancar, materi lebih masuk, pun jika ada masalah bisa segera diatasi karena ya sudah kenal itu tadi. Sudah tahu caranya men-treatment anak,” ujar Mrs. Maya.
Selain itu, teknik mengajar, model pembelajaran, pendekatan serta cara berkomunikasi antara guru dengan anak kelas kecil tentu akan berbeda dengan anak-anak kelas besar. Mr Dika, yang mengampu siswa baru, menyatakan bahwa tantangan terberat adalah membuat siswa baru nyaman dengan lingkungan baru, ritme belajar baru, dan juga mengukir kesan yang positif di hati anak-anak terhadap sekolah, guru, teman, serta proses pembelajaran, karena ritme belajar di TK tentu berbeda dengan Sekolah Dasar. Teacher sekolah alam tentu sudah paham dan mempersiapkan hal ini sejak jauh-jauh hari. Untuk itu, MPLS di minggu pertama ini sangat penting untuk dilakukan demi kelancaran proses belajar mengajar selanjutnya.
Pagi-pagi sekali anak-anak telah datang dengan penuh semangat dan ceria, lengkap dengan baju adat jawa, udeng/syal, serta sepatu boot yang menjadi ciri khas sekolah alam. Saat ditanya mengapa mereka datang pagi sekali, kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa mereka sangat excited, berada di kelas baru, bertemu teman-teman baru dan penasaran dengan teacher baru.
”Aku senang sekali miss bisa masuk sekolah lagi. meskipun agak malu karena sekarang satu sekolah sama kakak kelas, banyak yang belum kenal akrab. Tapi aku seneng, sekolahnya nyaman, teacher-teachernya juga seru,” ujar Chalis, salah satu anak kelas 4.
Allis, salah satu anak jago gambar di Sekolah Alam Pacitan, begitu datang pagi-pagi langsung salim dan menyapa Mr. Krisna sambil berseloroh, ”Aku sekarang sudah kelas 6 loh Mr. Udah makin ganteng,” disambut gelak tawa mereka berdua. Begitulah, keakraban dan kekeluargaan antara siswa dan guru selalu dipupuk dan memegang peranan penting dalam setiap pembelajaran di Sekolah Alam Pacitan.
Siswa disambut oleh teacher sejak dari gerbang, anak-anak dengan riang menyapa dan salim (berjabat tangan) dengan setiap teacher yang ditemui. Seperti biasa, anak-anak akan melakukan kegiatan pembiasaan pagi seperti menyiram tanaman, membersihkan kelas, menata perlengkapan pribadi di rak dan loker yang disediakan. Setelah melakukan doa pagi, yel-yel dan ice breaking, anak-anak diajak untuk School Touring, yakni memperkenalkan fasilitas, sarana prasarana di sekolah serta tata cara penggunaannya dengan benar. Mulai dari kelas, kebun sekolah, peternakan sekolah, ruang perpustakaan, UKS, kolam, dapur, ruang gamelan, ruang guru, kamar mandi, dan berbagai fasilitas lain.
Setelah pembiasaan sholat dhuha dan mengaji, anak-anak snack time dan dilanjutkan dengan games seru untuk membangun bonding antar siswa yang telah lama tidak bersua selama liburan, sambil mengenal karakter anak melalui permainan. Dilanjutkan dengan toilet training, makan siang, diakhiri dengan pembiasaan sholat dhuhur sebelum pulang sekolah.
Demikianlah MPLS di Sekolah Alam Pacitan, alih-alih terkesan menakutkan karena bullying yang diatas namakan pendisiplinan, hukuman-hukuman, yang selama ini memang erat dengan reputasi masa orientasi, MPLS Sekolah Alam justru menggunakan waktu tersebut untuk bersungguh-sungguh membangun bonding, beradaptasi, dan mengajak siswa mengenali sekolahnya. Agar tumbuh rasa memiliki, rasa nyaman dan diterima, sehingga slogan sekolah kami benar-benar bisa dirasakan: Sekolahku, Rumahku, Keluargaku.