JADI GURU BUAT ANAK-ANAK? SIAPA TAKUT!


Oleh Afiefa Kesumawati (Mama Haura Noya Zaida)

Keputusan pemerintah terkait proses belajar mengajar di sekolah akhirnya ketuk palu juga. Sebuah keputusan yang melegakan sekaligus mencemaskan. Bersamaan dengan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 masa belajar di rumah akhirnya diperpanjang. Kekhawatiran para orang tua terkait kegiatan sekolah selama masa tatanan normal baru terjawab sudah. Orang tua tidak perlu galau lagi terkait keselamatan anak-anak. Proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh tentu akan meminimalis anak-anak terpapar virus corona

Proses belajar mengajar di rumah memang bukan tanpa masalah. Masih terngiang sorak gembira anak-anak saat sekolah kali pertama mengumumkan selama dua minggu anak-anak akan belajar di rumah. Gambaran pembelajaran di rumah bagi anak-anak adalah seperti masa liburan sekolah. Tapi kenyataannya anak-anak harus mentaati berbagai protokol pandemi salah satunya adalah melakukan segala aktivitas di rumah. Imajinasi belajar di rumah dengan diselingi jalan-jalan, berkunjung ke rumah teman, atau bermain di tempat umum buyar sudah. Anak-anak pun mengalami kebosanan dan rindu sekolah.

Secara psikologis anak-anak memang belum mampu memenuhi protokol kesehatan di era pandemi. Keputusan untuk melanjutkan proses belajar mengalami di rumah adalah pilihan paling baik walaupun di sisi lain menyisakan banyak kecemasan bagi sebagian besar orang tua terutama bagi seorang ibu.

Untuk para ibu yang bekerja di sebuah instansi pasti sibuk melakukan WFH (work from home). Walaupun secara fisik mereka berada di rumah perhatian mereka pasti tak lepas dari layar komputer dan gawai. Bagi ibu yang harus tetap bekerja di luar rumah tentu sangat kelimpungan membagi perhatian dan waktu antara bekerja dan menemani anak-anak belajar di rumah.


Begitupun bagi ibu rumah tangga yang terbiasa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan waktu yang teratur tiba-tiba semua harus berubah. Beban ganda yang harus dijalankan menjadi tantangan yang cukup berat. Para ibu mendadak menjadi seorang guru dengan tuntutan yang tidak sedikit.

Pada dasarnya setiap ibu memang guru buat anak-anaknya. Jadi harusnya bukan hal berat ketika sekarang ini keadaan memaksa seorang ibu berperan layaknya guru di sekolah. Tapi nyatanya menjadi seorang guru tidaklah mudah. Tanpa berbekal ilmu pendidikan yang cukup banyak ibu frustasi mengajari anak mereka sendiri dan gampang tersulut emosi saat mendampingi anak-anak dalam proses belajar.

Saya sendiri juga mengalami masa-masa penuh drama saat proses belajar mengajar mulai dilakukan di rumah. Di satu sisi harus tetap keluar rumah untuk bekerja tetapi di satu sisi lain juga harus memastikan anak-anak belajar dan menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah dengan baik. Proses belajar di rumah menjadi sedemikian menyeramkan. Anak-anak bukan lagi berhadapan dengan sosok guru yang sabar dan penyayang, melainkan sosok guru yang tidak sabaran dan penuh ancaman.

Terus menerus mengeluh bukan solusi yang tepat karena tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Kini memang sudah saatnya seorang ibu meluangkan waktu menjadi guru untuk anaknya sendiri. Tanam kesadaran di dalam hati bahwa ini proses belajar. Dari belum tahu menjadi tahu, dari belum bisa menjadi bisa. Ibu hanya perlu menurunkan idealisme dan meluaskan kesabaran saat mendampingi anak-anak belajar. Perluas pengetahuan dan wawasan juga tidak boleh dilupakan. Banyak media belajar yang tersaji, tinggal klik tentukan pilihan. Melek teknologi juga jadi tuntutan, jangan ragu untuk berlari mengejar ketertinggalan.

Menciptakan suasana belajar yang menarik, bermakna dan menyenangkan juga perlu andil besar dari guru di sekolah. Dalam kondisi yang serba tidak menentu ini diharapkan guru juga dapat melakukan inovasi pada proses pembelajaran secara online. Anak tidak melulu belajar yang sifatnya hanya tekstual dan pemberian tugas Sistem pembelajaran perlu didesain dengan materi yang lebih menarik sehingga anak tidak merasakan kalau dirinya sedang belajar.

Sinergitas yang baik antara orang tua dan guru menjadi kunci suksesnya pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Lambat laun metode belajar secara online ini akan menjadi kebiasaan dan tidak ada lagi kegagapan ataupun kesulitan dalam melakukannya.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari pandemi ini. Bersyukur dan nikmatilah proses belajar bersama anak. Bukankah sejatinya mendidik dan mengajarkan anak itu adalah tugas utama kita selaku orang tua? Kelak kita pasti akan bahagia dan bangga melihat hasilnya. Seperti kata pepatah: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”