MENAKAR KEDEWASAAN DI MASA PANDEMI

Ditulis oleh: Chusna Apriyanti (Mama Nala Zainuna Putri)

Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda adanya penurunan.
Berbagai kebijakan digelontorkan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah guna menekan laju penularan COVID-19, seperti PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat sebagai ganti dari PSBB. Kebijakan tersebut tentunya tidak bisa dijalankan begitu saja. Perlu peran serta masyarakat untuk ikut mendorong aturan tersebut. Jika masyarakat tidak mendukung dan berperan aktif dalam kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, sebaik apapun kebijakan, tetap tidak akan berdampak signifikan dalam upaya pengendalian penyebaran COVID-19.

Lalu, bagaimana peran setiap individu dalam perjuangan melawan pandemi ini? Kunci yang pertama yang harus tertanam dalam setiap individu adalah kedewasaan. Mengutip kata bijak dari Carroll Bryant yang mengatakan bahwa “Growing old is mandatory but growing up is optional”. Hal ini bisa dimaknai bahwa menjadi tua itu adalah sebuah kepastian, namun menjadi dewasa adalah pilihan. Hal ini menekankan bahwa bertambahnya umur kadang tidak serta merta bertambahnya pola pikir kedewasaan seseorang.

Pola pikir dewasa mencakup beberapa aspek, seperti bisa memilih dan menentukan mana yang baik dan buruk serta mana yang benar dan mana yang salah, mampu berpikir dahulu sebelum bertindak, tidak mudah emosi, mampu berpikir tenang dalam setiap permasalahan, mampu berpikir positif, mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, serta mampu mengerti orang lain. Pola pikir tersebut lah yang sangat berperan penting dalam pengendalian penyebaran COVID-19.

Dewasa Sebagai Individu
Individu yang dewasa tidak hanya dilihat dari usia, namun juga dilihat dari pola pikirnya. Individu yang dewasa harus mampu lebih bijak dalam menyikapi pandemi. Hal ini penting tidak hanya berperan untuk diri sendiri, namun juga untuk orang di sekitar. Sebagai contohnya, individu yang dewasa harus mampu menerapkan 3M dan 3T dengan baik. Ia harus lebih peduli pada dirinya sendiri dengan memakai masker secara disiplin, menjaga jarak dan mencuci tangan. Individu yang dewasa juga harus mampu menahan diri untuk tidak keluar rumah kecuali untuk hal yang sangat penting. Ia akan mampu menahan diri untuk tidak sekedar hang out dan ngopi dengan teman-teman sejawatnya. Apabila setiap individu dewasa melakukan ini, tentu akan memberikan dampak yang signifikan terhadap penurunan penyebaran virus tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk kalangan yang lebih luas.
Kedewasaan juga ditunjukkan apabila mengetahui dirinya terkonfirmasi positif, maka ia akan dewasa menerima segala konsekuensinya. Setiap individu harus bersikap bijak dengan mematuhi aturan yang berlaku. Ia juga akan kooperatif untuk melakukan pemeriksaan dokter maupun ketentuan tata laksana penyembuhan sampai batas waktu yang ditentukan. Jika setiap individu mampu bersikap dewasa seperti ini, tentu beban tenaga kesehatan akan lebih ringan dan upaya pengendalian penyebaran wabah akan lebih mudah.

Dewasa Sebagai Bagian dari Keluarga
Sebagai bagian dari keluarga, setiap individu harus berperan aktif untuk menjaga keluarganya agar kluster keluarga bisa dihindari. Sebagai contoh, ketika suami/ayah pulang dari bepergian atau pulang bekerja, maka ia harus segera membersihkan diri sebelum berkumpul dengan keluarga. Seorang istri/ibu harus mampu menjaga kebersihan keluarga dan menyediakan makanan bergizi tinggi untuk imunitas keluarga. Lebih jauh dari itu, keluarga harus memiliki tujuan bersama dalam menjaga dari virus yang harus disepakati bersama anggota keluarga. Jika anggota keluarga saling mendukung untuk memutus penyebaran virus, tentu akan berdampak besar bagi masyarakat. Bayangkan saja ketika setiap keluarga seperti ini, tentu penyebaran virus di masyarakat tidak akan meluas.

Dewasa Sebagai Bagian dari Masyarakat
Setiap individu pasti memiliki peran masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan peran tersebut, setiap individu harus ikut andil dalam memutus penularan virus. Sebagai contohnya, ketika ada salah satu warga yang terkonfirmasi positif, maka sudah selayaknya para tetangga di sekitar rumah harus membantu baik secara spiritual maupun material. Dukungan spiritual seperti tidak menjauhi, memberikan dorongan semangat, memberikan motivasi positif, dan lain-lain sangat membantu untuk pemulihan semangat. Tentu hal ini butuh kedewasaan dan pemahaman yang baik tentang virus dan penyebarannya karena tidak jarang pula ketika ada tetangga yang terkonfirmasi positif, justru dikucilkan dan dibiarkan. Kedewasaan setiap individu di dalam sebuah masyarakat tentu akan membantu pasien agar cepat sembuh.

Dukungan material bisa dilakukan dengan membantu kebutuhan sehari-hari tetangga yang sedang isolasi mandiri. Jika para tetangga di sekitar rumah ikut andil dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti bahan makanan, vitamin, dan kebutuhan lainnya tentu si pasien tidak akan khawatir akan kebutuhannya. Jika hal itu terwujud dengan baik, tentu keharmonisan hidup bermasyarakat akan kuat. Setiap individu dalam lingkungan masyarakat akan merasa sehidup sepenanggungan untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Jika setiap masyarakat, baik di tingkat rukun tetangga maupun di tingkat atasnya melakukan ini, bukan hal yang tidak mungkin jika penyebaran virus akan mampu dikendalikan dengan mudah.

Semua uraian diatas merupakan wujud nyata pentingnya kedewasaan dalam masa pandemi. Setiap individu harus mampu bersikap dewasa terhadap dirinya sendiri, sebagai bagian keluarga, maupun sebagai anggota masyarakat. Jika masing-masing individu seperti itu, niscaya pemerintah akan memiliki beban yang lebih ringan dalam perjuangan mengendalikan penyebaran virus COVID-19 ini.

Tidak ada yang perlu saling menyalahkan atas pandemi ini. Sikap menyalahkan tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang dibutuhkan saat ini adalah sikap yang dewasa, saling mendukung dan bahu-membahu bekerjasama agar wabah ini cepat hilang. Mari menjadi garda terdepan dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19. Karena kita semua adalah pahlawan. Jika tidak dimulai dari kita, siapa lagi?