Merdeka Belajar Ala Sekolah Alam Pacitan

Apa yang dimaksud dengan Merdeka Belajar? Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Indonesia, Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa bisa memilih pelajaran yang diminati agar potensi serta bakatnya dapat tumbuh optimal. Dengan demikian diharapkan setiap siswa kelak dapat menyumbangkan peran dan karya yang baik bagi bangsa.
Pada prinsipnya, konsep Kurikulum Merdeka Belajar membebaskan guru maupun siswa untuk belajar sepenuh-penuhnya dari alam dan sumber daya sekitar kita, dengan mengajarkan materi-materi esensial, serta mengembangkan skill dan karakter sesuai profil pelajar pancasila. Model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Siswa belajar tidak lagi dibatasi ruang kelas, melainkan seluruh alam bisa menjadi ruang kelas. Guru juga merdeka dalam mengembangkan pembelajaran dan memodifikasi teknis pembelajaran sesuai karakter siswa, sumber daya di sekitar, serta kondisi spesifik lainnya. Ciri khas lain dari merdeka belajar adalah kurikulum ini tidak lagi hanya focus pada pengetahuan, melainkan juga menggali dimensi lain dari seorang manusia yang selama ini banyak dilupakan oleh pembelajaran di sekolah: Skill dan Karakter. Profil Pelajar Pancasila yang menjadi standar ideal seorang pelajar yang telah menguasai pembelajarannya, adalah seseorang yang bukan hanya berwawasan luas (knowledgeable), namun juga terampil (skillful) dan berkarakter luhur (noble character). Dan ketiganya tidak akan bisa dicapai jika siswa hanya duduk di kelas memperhatikan guru mengajar. Karena itu, lahirlah kurikulum baru yang disebut sebagai Kurikulum Merdeka Belajar.
Di hari keempat Welcoming Week (MPLS) di Sekolah Alam Pacitan anak-anak mulai ‘mencicipi’ atmosfer kurikulum merdeka belajar yang akan mereka jalani mulai Tahun Ajaran 2022/2023 ini. Anak-anak kelas kecil (1,2,3) hari ini belajar menyiram tanaman, menanam sawi, membuat karya seni teknik cap menggunakan pelepah pisang, mengumpulkan pupuk kandang, serta eksperimen sains dengan merica dan sabun.
Sementara itu, anak-anak kelas besar (4,5,6) melakukan aktivitas jelajah (adventure), cooking class, tandur (menanam padi) di sawah, merontokkan padi yang telah dipanen, observasi ekosistem sawah, dan tentu saja main lumpur dengan gembira! Sepulang dari sawah, mereka terlihat gembira, sambil membawa oleh-oleh ikan kuthuk yang mereka tangkap.
Mengajarkan kebiasaan baik dengan cara yang benar sangar krusial untuk anak-anak kelas kecil. Karena di masa itulah mereka menyerap aturan, adab, yang berlaku di sekitar mereka. Sedikit demi sedikit karakter luhur (noble character) mereka akan dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan baik, dimulai dari sekolah dan dipupuk terus di rumah masing-masing. Dimulai dari hal kecil seperti kebiasaan menyiram tanaman dengan benar, cara menanam sayur, cara menyapu, cara beribadah, kebiasaan membaca, jiwa pembelajar, rasa ingin tahu (curiosity), berpikir kritis (critical thinking), adab menyapa saat bertemu guru, cara berinteraksi dengan teman yang berbeda dari dirinya. Hal-hal baik tersebut dibiasakan bukan hanya terintegrasi dalam pelajaran melainkan juga dalam morning activities (pembiasaan pagi)interaksi sehari-hari di Sekolah Alam Pacitan.
Lifeskill (kecakapan hidup) juga penting untuk dipelajari, agar mereka menjadi pribadi yang resilient (tangguh), independent (mandiri), dan skillful (terampil). Softskill maupun hardskill terus diasah melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang belajar langsung dari kehidupan nyata, membuat karya, juga dari program seperti Talent Exploration, event seni budaya, event perlombaan, market day, cooking class, outing, adventure, dan program lainnya. Dalam kesemuanya itu anak belajar bagaimana berkomunikasi, berpikir kritis, berkolaborasi, mandiri, problem solving, belajar membuat karya dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Sedangkan dalam hal pembelajaran, tidak lagi melulu di dalam kelas, memperhatikan papan tulis lalu mengerjakan soal. Anak-anak diajak belajar secara bermakna. Yakni dengan belajar langsung dan dipaparkan pada isu-isu aktual dari alam sekitar. Mereka belajar dengan mengamati secara langsung, melakukan eksperimen, membuat proyek individu maupun kelompok, praktek di lapangan, melakukan penelitian, mencari literatur, berdiskusi. Untuk tingkat SD, hal tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk eksperimen sains sederhana, proyek engineering sederhana, observasi tanaman mereka sendiri, mengamati tanaman/hewan secara langsung di ekosistemnya, belajar tentang ekonomi di pasar, dan lain sebagainya. Dengan demikian diharapkan mereka akan memiliki pemahaman yang utuh dan luas dalam menanggapi suatu permasalahan, dan dibimbing untuk menemukan solusinya.
Merdeka belajar bukan berarti belajar semaunya tanpa arah, melainkan memerdekakan cara belajar dengan berfokus pada hal-hal esensial dan yang memang benar-benar perlu diajarkan dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang. Merdeka belajar, belajar itu harus bermakna dan menyenangkan! Itulah makna Merdeka Belajar ala Sekolah Alam Pacitan.