Sejarah Si nDeso: menjembatani ilmu lokal menuju global

SD Alam Pacitan sejak awal didirikannya, berkomitmen untuk melakukan proses belajar yang
menitikberatkan pada pembentukan karakter anak. Belajar tidak harus di dalam kelas. Belajar dapat
dilakukan dimana saja dengan siapa saja. Metode yang digunakan lebih mengedepankan aspek interaksi
sosial dan menciptakan ekosistem sekolah sebagai rumah belajar yang menyenangkan. Salah satu kegiatan
belajar yang dilakukan adalah dengan melakukan inovasi Sinau ing nDeso (Si nDeso) atau belajar di desa.
Seluruh anak-anak, guru dan karyawan SD Alam Pacitan boyong ke desa. Inovasi ini dilaksanakan setahun
sekali diawal semester kedua. Kegiatan belajar selama dua hari dilakukan di desa. Di desa anak-anak
mengamati, mempelajari dan memahami setiap objek yang mereka temui. Kegiatan ini mengintegrasikan
seluruh mata pelajaran serta melibatkan orang tua dan masyarakat. Anak-anak menginap di rumah warga
untuk bisa lebih dekat dengan masyarakat. Merasakan kehidupan desa yang kontras dengan kehidupan
mereka sehari-hari. Mereka bebas melakukan tanya jawab dengan siapapun yang ditemui dan
mendokumentasikannya. Melalui inovasi ini, anak-anak dipancing untuk mengembangkan kemandiriannya.
Mengasah rasa empati dan peduli. Melatih sikap kritis dan percaya diri.

Kegiatan Si nDeso setiap tahun disempurnakan dan disesuaikan dengan pilihan lokasi kegiatannya. Pemilihan lokasi harus memenuhi tiga aspek yaitu keamanan, kesediaan masyarakat serta adanya keunikan khas desa.
Keunikan khas desa dapat berupa adanya kearifan lokal masyarakat dan adanya sentra home industry.
Pelaksanaan inovasi Si nDeso beserta kegiatan dan capaiannya adalah sebagai berikut:

1. Si nDeso I (22-23 Maret 2010, Desa Mlati, Kecamatan Arjosari)
Berbagai kegiatan yang dilakukan antara lain outbound, susur sungai, dan wawancara dengan tokoh dalang
di Desa Mlati. Anak-anak belajar membuat tempe bersama warga serta menjual tempe di pasar. Hasil belajar
yang didapatkan antara lain anak memahami karakterisktik sungai di Arjosari. Mereka juga bisa
mempraktikkan cara membuat tempe beserta takaran bahannya dan menghitung laba.

2. Si nDeso II (1-2 April 2011, Desa/Kecamatan Kebonagung)
Beberapa aktivitas yang dilakukan bersama warga antara lain mengunjungi pandai besi, pengrajin batu bata
dan belajar cara membuat pithi (wadah untuk mencuci beras). Anak-anak melakukan penanaman bibit
sengon laut atas kerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kab.Pacitan. Anak-anak memahami
proses pembuatan sabit, cangkul, batu bata serta memahami karakteristik masyarakat Kebonagung yang
masih dekat dengan wilayah perkotaan.

3. Si nDeso III (17-18 Desember 2012, Gedangan, Tegalombo)
Kegiatan yang dilakukan antara lain mengunjungi peternakan jangkrik dan pengrajin anyaman bambu. Anakanak mengadakan pentas seni bersama warga. Anak-anak berdialog bersama para sesepuh Desa Gedangan
untuk mempelajari kehidupan sosial masyarakatnya. Setelah kegiatan, anak-anak memahami cara budidaya
jangkrik dan karakteristik masyarakat Gedangan.

4. Si nDeso IV (15-16 Januari 2014, Hadiluwih, Ngadirojo)
Kkegiatan yang dilaksanakan adalah mengunjungi sentra olahan ikan tuna, industri sale pisang, peternakan
sapi dan penangkaran penyu. Anak-anak melakukan pementasan gamelan yang dibawa dari sekolah. Hasil
belajar yang didapat antara lain anak-anak memahami cara mengolah ikan tuna menjadi beragam olahan
kuliner khas Pacitan seperti tahu tuna, otak-otak tuna, bakso tuna dan nugget tuna. Mereka juga memahami
pentingnya menjaga kelestarian penyu di area konservasi penangkaran penyu.

5. Si nDeso V (29-30 Januari 2015, Desa/Kecamatan Pringkuku)
Anak-anak mengunjungi industri kripik singkong, industri tepung mocaf, peternakan ayam dan membagikan
bibit tanaman sengon laut kepada warga. Sekolah juga mengadakan bakti sosial pertama kali selama
kegiatan Si nDeso. Sebagian dana baksos didapat dari bantuan wali murid yang diwujudkan dalam bentuk
sembako. Bantuan sembako diserahkan oleh anak-anak kepada warga. Mereka menjadi lebih peduli dan
empati kepada warga kurang mampu.

6. Si nDeso VI (21-22 Januari 2016, Mendolo Kidul, Punung)
Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan pentas hadroh bersama warga, bakti sosial, belajar
membuat kripik talas, mengunjungi industri pengolahan jahe, menanam dan membagikan bibit sengon laut
serta menanam sayur bersama warga. Anak-anak mengunjungi situs purbakala Kali Baksoka untuk
mempelajari sejarah penemuannya dan apa saja yang terdapat di situs tersebut. Mereka dapat melihat
langsung lokasi penemuan benda purbakala dan memahami asal-usulnya.

7. Si nDeso VII (23-24 Februari 2017, Sekar, Donorojo)
Kegiatan yang dilakukan antara lain belajar membuat kripik pisang, bakti sosial, mengetahui sejarah upacara
adat ceprotan serta mengunjungi perajin wayang kulit dan batu mulia. Anak-anak belajar di rumah sesepuh
Desa Sekar yaitu Bapak Iman Tukijo. Beliau menceritakan sejarah terjadinya Desa Sekar hingga adanya
upacara adat ceprotan. Setelah kegiatan, anak-anak menggelar pameran Educational and Ecotourism of
Sekar Village di sekolah.

8. Si nDeso VIII (9-10 Februari 2018, Wonoanti, Tulakan)
Kegiatan yang dilakukan antara lain mengunjungi industri gula jawa, industri tempe tradisional dan bakti
sosial. Sebagian dana baksos didapatkan dari hasil penjualan makanan olahan anak-anak. Anak-anak belajar
cara budidaya jamur dan cara pembuatan berbagai peralatan dapur dari anyaman. Mereka mempraktikkan
cara membuat tampah, pithi, senik, dan kukusan. Mulai dari pemilihan bambu hingga finishing. Mereka
memahami proses pembuatan gula jawa, mulai dari pengambilan nira, pemasakan, pendinginan dan
pencetakan.

Inovasi Si nDeso telah berhasil memperkaya proses pembelajaran di SD Alam Pacitan. Orang tua saat ini memiliki perspektif yang berbeda dari sebelum adanya kegiatan Si nDeso. Orang tua menjadi lebih terbuka
dan fleksibel dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan anak di sekolah. Sebanyak 95,27% wali
murid SD Alam Pacitan memiliki pemikiran yang lebih luas tentang paradigma pendidikan di era modern saat
ini. Orang tua dan sekolah dapat bersinergi untuk tujuan jangka panjang pendidikan anak yaitu membentuk
karakter anak yang unggul, mampu bersikap selektif di era modernisasi dan menyiapkan anak untuk bisa
menjadi generasi penerus bangsa. Berikut ini salah satu pernyataan wali murid tentang kegiatan Si nDeso:

“kegiatan Si nDeso Sekolah Alam Pacitan merupakan kegiatan yang luar biasa, yang selalu menyuguhkan tempat baru, hal baru, pengalaman baru bagi siswa-siswi SOE. Bahkan kami sebagai orang tua selalu penasaran tempat mana lagi yang Mr.Bangun dan Teachers temukan ya? Karena menurut kami tempattempat yang dituju dan digunakan untuk kegiatan adalah tempat-tempat luar biasa. Bahkan kalau boleh jujur kami pun juga pengen seperti anak-anak mengunjungi, mencari pengalaman, melihat tempat-tempat di daerah sendiri (dikampung Pacitan tercinta)” Nunung Candra R. – parent Dhafina kelas VI.

Inovasi ini berdampak pada pola pikir anak. Sebanyak 98,03% anak memiliki preferensi yang tinggi terhadap
kegiatan Si nDeso. Setiap tahun anak-anak selalu tidak sabar untuk mengetahui ke desa mana lagi mereka
akan belajar. Anak-anak menjadi lebih tahu potensi desa yang telah mereka kunjungi. Anak-anak saat ini
telah memiliki kepekaan sosial yang lebih baik. Anak-anak mampu menyadari pentingnya melestarikan
budaya lokal desa dan memahami prinsip hidup masyarakat desa. Sebanyak 81,37% orang tua menuturkan
bahwa anaknya saat ini telah menjadi pribadi yang mandiri, tanggap, tanggung jawab dan memiliki
pengetahuan luas tentang budaya lokal desa, alam beserta masyarakatnya.

Melalui pelaksanaan inovasi ini terjalin kerjasama yang baik antara sekolah dan pemerintah desa yangpernah bertindak sebagai tuan rumah. Kerjasama tersebut tidak hanya saat kegiatan saja. Pemerintah desa selalu terbuka jika SD Alam Pacitan melaksanakan kegiatan di desa kapan saja. Kerjasama juga dilakukan
antara sekolah dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Kabupaten Pacitan. Kerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan berupa bantuan bibit
tanaman untuk ditanam di lokasi kegiatan dan dibagikan kepada warga. Kerjasama dengan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berupa memberikan informasi cuaca dan pemetaan daerah rawan
bencana, pendampingan selama kegiatan Si nDeso dilaksanakan dan sebagai narasumber.

Perubahan yang paling dirasakan adalah meningkatnya kemandirian dan pengetahuan anak. Anak-anak
lebih mampu mengurus dirinya sendiri, merawat peralatan pribadi dan memiliki inisiatif lebih baik untuk
membantu orang tua. Anak-anak juga lebih disiplin dalam kegiatan sehari-hari (prigel) di rumah dan di
sekolah, bersikap lebih dewasa serta memiliki empati terhadap masyarakat desa. Anak-anak memiliki
pemahaman tentang karakteristik masyarakat dan kearifan lokal desa. Beberapa hasil belajar selama
kegiatan Si nDeso antara lain:

  1. anak-anak memahami karakterisktik sungai di Arjosari;
  2. bisa mempraktikkan cara membuat tempe beserta takaran bahannya, menjualnya dipasar dan menghitung laba;
  3. mengerti proses pembuatan sabit, cangkul dan batu bata;
  4. memahami cara budidaya jangkrik dan pemasarannya;
  5. memahami cara mengolah ikan tuna menjadi beragam olahan kuliner khas Pacitan seperti
    tahu tuna, otak-otak tuna, bakso tuna dan nugget tuna;
  6. memahami pentingnya menjaga kelestarian penyu di area konservasi penangkaran penyu;
  7. memahami sejarah situs purbakala Kali Baksoka beserta apa saja yang terdapat di dalamnya;
  8. memahami cara budidaya jamur mulai dari pencampuran media, sterilisasi, penanaman bibit jamur dan pemanenan;
  9. memahami cara pembuatan berbagai peralatan dapur dari anyaman seperti tampah, pithi, senik, dan kukusan; serta
  10. memahami proses pembuatan gula jawa mulai dari pengambilan nira, pemasakan, pendinginan dan pencetakan.

Inovasi Si nDeso juga berdampak kepada orang tua. Orang tua saat ini berpikiran lebih terbuka dan bisa
memberikan stimulasi yang lebih baik untuk membentuk kemandirian anak. Orang tua lebih sering melakukan
aktivitas rumah bersama anak sambil mengajari anak-anak melakukan berbagai pekerjaan rumah. Orang tua
lebih banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan segala hal positif dengan tetap
memberikan pendampingan.

Pameran Educational Ecotourism of Sekar Village telah mentransfer informasi dari desa ke kota. Informasi
tentang adat budaya masyarakat Desa Sekar beserta potensi dan kearifan lokalnya. Pameran tersebut
dilaksanakan pada tahun 2017 di sekolah. Pengunjung yang datang mencapai 673 orang. Sebanyak 95,41%
pengunjung menilai bahwa pameran ini sangat bagus untuk melestarikan budaya lokal desa di Pacitan dan
harus dilanjutkan. Pengunjungnya terdiri dari guru dan anak-anak dari sekolah lain, masyarakat umum dan
wali murid. Pascapameran, masyarakat menjadi tahu potensi desa, menceritakan isi pameran kepada orang
lain dan tertarik datang langsung ke desa untuk berwisata ataupun berbelanja produk khas desa. Berikut ini
salah satu pernyataan dari masyarakat:

“Warga kami sangat senang bisa menemani anak-anak SD Alam Pacitan untuk belajar. Semangat warga kami tergugah untuk bekerja lebih produktif lagi setelah tahu bahwa hasil kegiatan Si nDeso di desa kami telah dipamerkan di SD Alam Pacitan yang secara langsung mempromosikan potensi yang ada di desa kami”. Bapak Suyatno – Perajin Wayang Kulit, Desa Sekar, Kecamatan Donorojo.

Adanya inovasi Si nDeso dan pameran educational ecotourism berkontribusi dalam mempromosikan potensi
desa kepada masyarakat luas. Masyarakat lebih mengenal karakteristik masyarakat desa dan mengetahui
potensi desa.