Sharing Budaya Bersama SAIM

Oleh: Mega Puspita Sari

Budaya dalam suatu organisasi memiliki pengaruh yang signifikan pada keefektifan suatu organisasi dan prestasinya. Penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Keberadaan sekolah sebagai organisasi pendidikan memiliki peran dan fungsi untuk berusaha mengembangkan, melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada para siswanya. Budaya organisasi di sekolah merupakan cermin kerangka pencapaian mutu pendidikan di sekolah. Nilai dan keyakinan pencapaian mutu pendidikan di sekolah menjadi hal yang utama bagi seluruh warga sekolah dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berakhlak mulia.

Setiap orang mempunyai berbagai pengalaman yang memungkinkan dia berkembang dan belajar. Dari pengalaman itu, individu mendapatkan patokan – patokan umum untuk bertingkah laku. Misalnya, bagaimana cara berhadapan dengan orang lain, bagaimana menghormati orang lain, bagimana memilih tindakan yang tepat dalam satu situasi, dan sebagainya. Patokan-patokan ini cenderung dilakukan dalam waktu dan tempat tertentu.

Pada tanggal 8 Juni 2021 SD Alam Pacitan mengikuti kegiatan sharing budaya yang diadakan oleh Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya. Sekolah Alam diundang untuk mmenjadi narasumber dalam acara sharing budaya tersebut. Sekolah Alam Pacitan mendelegasikan Theodore Benson Hendrawan dan Haura Noya Zaida, keduanya adalah siswa kelas 6. Kak Theo mempresentasikan tentang potensi wisata Pacitan sedangkan Kak  Noya mempresentasikan tentang kebudayaan, kesenian dan kearifan lokal Pacitan.

Biasanya SAIM Surabaya mempunyai program studi tour ke beberapa daerah untuk mempelajari wilayah dan budaya daerah yang dikunjungi yang dilaksanakan tiap tahun, karena pandemi yang belum juga usai maka kegiatan studi tour tidak bisa dilaksanakan. Sehingga program Sharing Budaya menjadi alternatif pengganti program tersebut.

Delegasi Sekolah Alam Pacitan merupakan narasumber termuda  dalam kegiatan ini, Kak Theo dan Kak Noya duduk di kelas 5 pada saat itu. Dua narasumber lain adalah seorang alumni Sekolah Alam di Sumba yang saat ini menempuh pendidikan SMP, dan narasumber yang ketiga adalah seorang guru Sekolah Alam di Aceh. Sedangkan audiens kegiatan ini adalah seluruh siswa kelas 5 Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah setiap informasi yang disampaikan oleh narasumber dijadikan bahan untuk Penilaian Akhir Tahun (PAT) atau ujian kenaikan kelas siswa kelas 5 SAIM.

Kak Noya mengatakan, “Saya sangat senang mendapat kesempatan untuk berbagi cerita dengan teman-teman SAIM”.
Sedangkan Kak Theo berkata bahwa ini adalah pengalaman pertama baginya untuk bercerita di depan banyak audiens yang belum dia kenal, ” Seru sekali kegiatannya, senang bisa dapat teman-teman baru”, tutur Kak Theo.

Kami berharap suatu saat Sekolah Alam Pacitan  juga bisa melakukan kegiatan serupa, sehingga meskipun pandemi anak-anak tetap mendapat pengalaman baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Terlebih dengan adanya kegiatan tukar budaya seperti ini, anak-anak menjadi semakin banyak wawasan baru dan juga teman baru.